UJI EMISI, UJI EMOSI

Saat ini kita berbicara tetang permasalahan kehidupan sosial khususnya di dalam perjalanan jalan raya.

Aktivitas transportasi khususnya kendaraan bermotor merupakan sumber utama pencemaran udara di daerah perkotaan. Diantaranya, kota terbesar kedua di Indonesia yakni Surabaya. Kendaraan bermotor menempati ranking pertama sebagai penghasil polusi udara setelah dari aktivitas industri, rumah tangga, pembakaran sampah, kebakaran hutan/ladang dan tranportasi lainnya seperti kereta api dan pesawat terbang.

World Bank mencatat, sejalan dengan pertumbuhan pada sektor transportasi, yang diproyeksikan sekitar 6% sampai 8% per tahun, pada kenyataannya tahun 1999 pertumbuhan jumlah kendaraan di kota besar hampir mencapai 15% per tahun. Dengan menggunakan proyeksi 6-8% maka penggunaan bahan bakardi Indonesia diperkirakan sebesar 2,1 kali konsumsi uahun 1990 pada tahun 1998, sebesar 4,6 kali pada tahun 2008 dan 9,0 kali pada tahun 2018 (World Bank, 1993).

Kenyataan itu bukan hanya disebabkan jumlah kendaraan bermotor yang kian meningkat pesat, tetapi juga banyak kendaraan yang tidak dirawat dengan baik, disamping kualitas bahan bakar yang masih mengandung timbel (Pb). Dari kecerobohan itu dampak yang dihasilkan, selain mengganggu kenyamanan hidup, emisi (gas buang) berupa karbon monoksida yang dalam konsentrasi tinggi itu juga dapat mengganggu kesehatan baik itu manusia, binatang dan tumbuhan.

Jika dicermati lebih dalam, kelompok yang rentan dengan penyakit akibat polusi udara itu diantaranya bayi, orang tua dan golongan berpenghasilan rendah biasanya tinggal di kota-kota besar dengan kondisi perumahan dan lingkungan yang buruk. Untuk mengatasi berbagai dampak sosial dan kesehatan itu,sekurang-kurangnya dapat diterapkan strategi pengelolaan dan pengendalian pencemaran udara di daerah perkotaan. Diantaranya, pertama, menerapkan kebijakan atau aturan dibidang lingkungan tentang dilaksanakannya siklus tahap pembangunan/peningkatan jalan raya sebagai upaya penuntasan masalah kemacetan.

Kemacetan, selain membuat kenyamanan berkendaran menjadi terhambat, juga berpotensi berkumpulnya polusi udara yang dihasilkan kemudian ‘menyerang’ manusia, binatang, dan tanaman disekitar jalan tersebut. Hal ini cukup beralasan ketika akumulasi polusi udara yang dihasilkan itu bertebaran di depan sekolah, rumah sakit, dan rumah pada penduduk yang bertepatan berhadapan langsung dengan jalanan yang tiap hari macet. Sehingga untuk mengatasi efek domino dari kemacetan itu perlu kesadaran masyarakat pengguna jalan (termasuk pedagang kaki lima) untuk menjaga kelancaran lalu lintas dan kebersihan lingkungan. Kedua, peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan. Diantaranya, mewajibkan disetiap rumah memiliki dan memelihara tanaman serta menjaga kebersihan lingkungan.

Kewajiban memiliki dan memelihara juga berlaku kepada para pemilik bangunan gedung-gedung bertingkat seperti mall, hotel, dan tempat usaha lainnya. Dan untuk diperhatikan, para pemilik bangunan harus menghitung besaran rasio keseimbangan antara luas lahan yang sedang digarap untuk dijadikan bangunan dengan luas lahan untuk tanaman atau pohon yang harus ditanami disekitar bangunan tersebut. Dengan demikian, semua lapisan masyarakat saling memiliki keadilan sosial dalam hal memlihara kelestarian lingkungan.

Bagi masyarakat pemilik kendaraan hendaknya untuk selalu merawat kendaraan dengan menggunakan bahan bakar kendaraan yang ramah lingkungan, termasuk dengan melakukan uji standar emisi (gas buang) kendaraan bermotor secara berkala. Standar yang diberlakukan bagi kualitas bahan bakar itu penting dilakukan, karena sebagian besar polusi udara disebabkan oleh pembakaran. Kualitas hasil atau sisa pembakaran tergantung antara lain dari kualitas bahan bakar yang digunakan. Dari rutinitas memperhatikan kualitas pembakaran oleh kendaraan bermotor, berikutnya yang tidak kalah pentingnya, adalah penggunaan dan perawatan kendaraan yang efektif dan efisien, serta jika perlu, pembatasan usia kendaraan mutlak dilakukan. Dan ingat, ketentuan ini juga berlaku untuk transportasi resmi pemerintah yang sudah uzur namun masih tetap digunakan.

Ketiga, penataan dan penerapan teknologi pereduksi polusi udara diantaranya penataan ruang hijau atau taman kota diruas-ruas jalan dengan tanaman pereduksi polusi udara. Dari tiga strategi diatas jika disertai tanggung jawab dan kerjasama antar pihak, semoga kita bisa kembali melihat langit biru. Dan bukan lagi melihat saling uji emosi berkendara yang disertai tanpa tahu malu.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s